Inspiratif: Tekad Mantan Kernet Angkot

Ada kalanya seseorang pernah mengalamai masa-masa sulit dalam perjalanan hidupnya. Mantan menteri BUMN di era Presiden SBY, Dahlan Iskan, pernah mengalami masa-masa itu. Dahlan ketika SMP sangat ingin memiliki sepatu untuk pertandingan bola voli di tingkat kabupaten, akan tetapi justru ibunya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras. Kisah itu ditulis dalam sebuah Novel yang juga sudah difilmkan, Sepatu Dahlan.  

Inspiratif: Tekad Mantan Kernet Angkot Hendrik Hermawan

“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya,” begitulah prinsip Dahlan. Ia tidak pernah berhenti bermimpi untuk memiliki sepatu dan sepeda. Kemiskinan yang dirasakannya, tidak menyurutkan semangat Dahlan untuk tetap bersekolah meski harus bertelanjang kaki, berjalan puluhan kilometer untuk sampai di pesantren Takeran. Dan tak jarang kakinya melepuh bahkan lecet.

Baca Juga: Birrul Qodriyyah-Peraih Bidikmisi Award 2013, Kini S2 di Edinburgh University UK

Pun halnya dengan seorang Hendrik Hermawan, S.Pd.SD.,M.Pd. Dibalik capaian dirinya sekarang, ada masa-masa sulit dimana ia benar-benar merasakan bahwa hidup harus diperjuangkan. Bahwa asa akan tetap ada, meski keterbatasan mengurungnya. Keterbatasan sebenarnya akan menjadi sesuatu yang indah, tergantung bagaimana kita menyikapinya

Hendrik Muda Ngernet Angkot untuk Biaya Kuliah

Hendrik muda pernah bekerja sebagai kernet angkot. Itu ia lakukan agar ia tetap bisa kuliah. Juara 1 Lomba Aplikasi Mobile Ki Hajar 2020 Kategori Guru ini, harus bangun pukul 3 dini hari untuk memulai aktivitas nya "narik"

Inspiratif: Tekad Mantan Kernet Angkot Hendrik Hermawan
Juara 1 Lomba Aplikasi Mobile Ki Hajar 2020 Kategori Guru

Di saat hari masih gelap, puluhan bahkan jutaan pasang mata masih terlelap, ia harus sudah sigap menemani pedagang-pedagang pasar. Start dari dari Pasar Wirosari, Grobogan dan berujung di Pasar Kunduran, Blora. 

Kebayang gak sih,  Hendrik teriak "Kalapa ... kalapa ... kalapa...!" seperti di Preman Pensiun? Tidak begitu juga kali' , akan tetapi begitulah kenyataannya.

Hendrik Hermawan adalah anak dari seorang pedagang ikan asin di Pasar Wirosari. Ia ikut narik angkot dari jam tiga dini hari dan pulang pukul dua siang. Begitulan keseharian yang ia jalani. Lantas bagaimana ia kuliah?

Anak ketiga dari tiga bersaudara ini, kuliah di DII PGSD (Pendidikan Dasar Guru Sekoah Dasar) Universitas Sebelas Maret Surakarta, penyelenggaraan di Purwodadi. Jadi tidak setiap hari perkuliahannya. Jika di DII Kelas reguler, tatap muka kuliah dari hari Senin sampai Jumat, maka untuk kelas jauh ini, masuknya hanya hari Sabtu dan Minggu saja.

Baca Juga: Herwin Hamid-Ikon Prestasi Indonesia, Peraih Princess Maha Chakri Award 2015

Jadi sisa hari, selain hari itu bisa ia gunakan untuk nyambi sebagai kernet angkot. Hendrik masuk kuliah di tahun 2003, tepat setahun sebelum saya masuk di tahun 2004. Jadi bisa dibilang Hendrik kakak tingkat saya di UNS. Beliau lulus D2 UNS tahun 2005.

Wah, kisah ini mirip dengan kisah hidup saya, dulu saya juga mesti bangun jam 3 an, selepas subuh, saya antar ibu ke salah satu pasar di Kabupaten Sukoharjo. 

Motor saya titipkan di pasar, kemudian saya lanjut negebis "Wonogiri-Solo" untuk bisa sampai di kampus IV UNS, dekat simpang tiga Kerten, Surakarta. 

Itu saya lakukan, semenjak angkot jemputan pedagang yang biasa jemput, para bakul-bakul tidak lagi datang menjemput karena tinggal ibu saya, yang masih berjualan. 

"Atau jangan-jangan angkotnya pindah ke Wirosari Haha... " pungkas saya, mengakhiri obrolan saya dengan Pak Hendrik, malam itu. 

Melangitkan Do'a

Manusia hanya bisa berusaha, itu saja tugasnya. Jika ikhtiar sudah maksimal, maka tugas selanjutnya hanya menyempurnakan tawakal. Biarkan Sang Penggenggam Kehidupan yang akan memberi jawaban dari setiap ikhtiar dan tawakalmu. 

Langitkan do'amu, langitkan impian mu. Biarkan semesta mendukungmu, dan tunggulah jalan takdir yang akan menuntunmu. Jangan menyerah. Kalo kata Sun TzuKenali dirimu, kenali musuhmu dan majulah dengan penuh keyakinan kamu akan jadi pemenang. 

Baca Juga: Hendrik Hermawan-Guru Inspiratif Pengembang Content Pembelajaran Android

Dari tiga bersaudara dalam keluarganya, hanya ia seorang yang mengenyam pendidikan hingga Diploma. Bahkan bisa lompat dua tingkat lebih tinggi, hingga menyandang gelar Magister. Tepatnya Magister Pendidikan, yang ditempuhnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

Mendidik dengan Hati, Mengasah Budi Pekerti, Berlari Mengejar Prestasi

Itulah kutipan dari Hendrik Hermawan alias Hendrik Sang Pencerah. 

Mendidik dengan Hati, Mengasah Budi Pekerti, Berlari Mengejar Prestasi 

Itulah mengapa di masa pandemi Covid-19 ini, ia menginisiasi Channel Youtube Ruang Belajar dan LMS (Learning Managemen System) Media Edukasi.

Channel Ruang Belajar, yang saat ini sudah mencapai 18 ribu subscriber, merupakan chanel bersama. Ia berhasil mengajak 1600++ guru di Indonesia untuk bersama-sama berkayra membuat content video pembelajaran sebagai bahan ajar untuk siswa di masa pandemi covid 19. 

LMS Media Edukasi adalah ruang virtual, yang bertujuan untuk mempertemukan guru yang memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan bahan ajar virtual dengan siswa yang memiliki keinginan tinggi untuk terus belajar.

Atas dedikasi dan prestasinya, Juara 1 Inobel 2017, yang mengantarkannya Short Course selama 21 Hari di Belanda itu, sering diundang menjadi narasumber di berbagai kegiatan baik Offline maupun Online. Undangan menjadi pemateri datang dari Sekolah-sekolah, Organisasi-organisasi Profesi, LPMP, P4TK,  hingga beberapa Universitas yang ada di Indonesia.

Saat ini, Sang Kernet Angkot itu, dipercaya oleh Kemendikbud untuk menjadi juri dibeberapa lomba yang diselenggarakan oleh kemdikbud. Keren ya?


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel