Orang Gila di Pojok Sekolah

Pertama kali sepasang indra lihatku menangkap sesosok lelaki berperawakan ceking itu, aku mengira ia orang gila. Akan tetapi setelah hampir satu minggu aku amati, sepertinya tidak demikian. Meski lusuh, raganya masih tertutup benang-benang baju. Tak seperti orang gila yang biasa aku lihat, tak berbaju, celana, bahkan ada yang sehelai benangpun tak ada yang melekat di badannya.

Ilustrasi
Diam-diam aku perhatikan gerak-gerik lelaki itu. Lelaki yang saban pagi duduk di trotoar depan pagar sekolah. Pagi ini, ia pakai kemeja pucat lengan panjang. Tak lagi bisa dikenali warnanya. Apakah itu merah bata, biru malam, coklat tanah, hijau apel, atau ungu pupus, aku tak tahu. Celana jins yang ia pakai lusuh, tak ada pantulan warna yang tersisa. Matahari telah mencuri semua sinaran dan gemerlap warna yang seharusnya ada.

Matahari kian meninggi, melumati pepucuk mangga madu yang masih bersanggul titik-titik embun, di pohon yang condong ke barat, di depan rumah dinas yang sudah setahun ini aku tempati. Awal kali aku di sini, Kepala Sekolahku masuk ICU. Beliaulah yang memaksaku menempatinya. Fasilitas ini seharusnya untuk kepala sekolah. Rumah Dinas Kepala Sekolah lebih tepatnya. Dua kamar tidur berukuran dua kali tiga meter, ruang utama empat kali tiga meter dan ruang tamu tiga kali tiga meter. Dilengkapi dapur dan kamar mandi. Cukup untuk keluarga kecilku. Sedangkan anak ku baru berusia satu tahun.

Awalnya aku berencana mengajukan mutasi. Mengingat jarak dengan rumah cukup jauh, lima puluh kilo meter. Sebelum aku menikah, setiap hari aku menempuhnya naik motor. Hingga suatu beberapa kali aku mengalami kecelakaan, aku berencana mutasi. Akan tetapi Kepala Sekolah ku tak kunjung menyetujuinya. Bahkan rumah dinas kepala sekolah yang masih lumayan bagus itu, diserahkannya padaku.

Atas restu dari ibu, aku menerimanya. Aku tak bisa tanpa persetujuan darinya. Hati ibu tak bersudut, sehingga mudah tersentuh dari sisi manapun. Sentuhan itu akan membuat hati memancarkan keikhlasan ke alam semesta, dan menjawabnya dengan rupa yang tak terduga. Aku yakin, aku ukses lolos tes pegawai negeri ini, atas do’a nya pula. Seringkali sekeras apapun usaha seseorang, tidak membawanya menemukan jalan sukses. Sukses memiliki banyak dimensi. Kegigihan saja kadang tidak berbuah sukses, tapi dengan ibu berdo’a, kelapangan pun segera terbuka.

Ini hari kedua, orang gila itu masih duduk ditempat yang sama seperti hari lalu. Matanya melangit, tapi tidak menangkap apapun. Mulut dan hidungnya berasap. Gumpalan gumpalan-gumpalan warna putih keluar dari mulutnya. Sebatang rokok terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. Disampingnya, segelas teh yang sudah berkurang seperti bagian. Mungkinkah lelaki itu orang gila?

Hari ketiga, tanya di cerebrumku semakin menguat. Dia muncul dengan warna baju yang selapis lebih baik. Hanya saja baju itu dipakainya dengan terbalik. Lelaki aneh! Ini semakin membuatku penasaran darimana orang gila itu dapat pakaian? Darimana pula ia dapat uang untuk membeli rokok dan segelas teh kemarin?

Aku juga mendapati dia sekali dua kali merenung-renung. Seperti terkenang sesuatu atau seseorang yang mungkin telah menyakitinya. Seringkali dia tiduran di bawah pohon mangga depan rumah. Bahkan pernah aku dapati, ketika jam sekolah telah usai, lelaki itu duduk di bawah pohon sawo, teras sekolah. Bersandar pada tembok berselimut keramik warna coklat muda. Kedua kaki diselonjorkannya sambil menatap ke arah jalan. Aku semakin curiga, jangan-jangan dia tidak gila, hanya berpura-pura saja.

Hari keempat, dia muncul dengan membawa plastik bening berisi es teh. Setelah puas lelaki itu menghisap pipa kecil yang menghubungkan benda cair bercampur bongkahan-bongkahan kecil air beku dengan mulutnya, digantungkannya plastik itu di pagar sekolah. Tak lama setelah itu ia berjongkok dan mencabuti rerumputan yang tumbuh di sela-sela paving trotoar depan pagar sekolah. Aku lupa mengamati seburuk apa baju yang dikenakannya hari itu. Karena aku benar-benar penasaran dengan tingkah orang gila itu.

Hari kelima, mulutku ini ingin menyuruhnya membuang segala pakaian basah yang dijemurnya di pagar sekolah. Tapi kutahan, salah-salah ia mengamuk dan membuyarkan anak-anak yang kebetulan hari ini sedang senam. Tunggulah sampai anak-anak masuk kelas, begitu kataku dalam hati.

“Orang gila itu siapa ya Pak, jemur baju seenaknya di pagar sekolah?”, tanyaku sambil mendekati Pak Wahana, Guru Olahraga tempat aku mengajar.

“Oh.. itu to Mas, dibilang gila ya tidak, dibilang waras ya bukan. Nanti tak suruh orangya, biar gombal-gombal basah itu tak lagi di jemur di situ.”, jawabnya.

Baca Juga: Tips Membuat Paragraf Pertama Sebuah Cerpen

Lelaki yang aku kira gila itu, ternyata tidak benar-benar gila. Umurnya sekitar lima puluh tahunan. Kurang lebih sepuluh tahunan perilakunya memang seperti itu. Orang gila itu agaknya memang tak benar-benar gila. Belakangan aku tahu, ia dapat uang dari hasil keringatnya.Ternyata uang, masih tersisa di memori otaknya. Masih tertinggal, tak seperti ingatannya pada keluarganya.

Berpagar gedung... indah...
sepanjang hari....yang melintasi....
silih berganti...

Azan subuh baru saja berlalu, seolah lenyap bersembunyi ke setiap tetes embun yang mengeramasi tanah. Aku masih dengan doa purba, di tempat yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya, di sebuah rumah dinas fasilitas pemerintah, duduk bersimpuh menengadah, di sepasang tangan yang tertangkup sunyi. Sayup-sayup dan semakin jelas suara orang gila itu menyanyikan sebuah lagu. Syair yang tak asing bagiku. Lantunan lagu perjuangan di pagi buta.

Aku terhenyak. Bukan hanya karena untaian kata, lagu ciptaan Gesang itu keluar dari mulut lelaki gila itu, melainkan juga ia membawakannya dengan irama seriosa. Mungkinkah ia dulu seorang yang berpendidikan. Atau ia dulu orang terpandang, yang kemudian menjadi gila karena ditinggal seseorang? Ah... aku tak tahu.

Pada suatu malam yang disorot kilau rembulan, ketika kunang-kunang mengitari tiang-tiang listrik, angin lirih menyapu plastik transparan hingga beterbangan ke jalan. Pada saat itu seorang lelaki memarkir mobil tepat di depan gerbang sekolah. Setelah tak terdengar bunyi mesin mobilnya, lelaki berdasi dan bersepatu itu membuka pintu, ia turun pelan seperti ragu dan berdiri agak lama di samping mobilnya seraya tak kedip menatap lelaki gila itu. Aku yang kebetulan hendak memasukkan motor, hanya bisa memandang dari kejauhan. Seketika keadaan disekap sunyi, minus suara, kecuali hanya kucing betina yang mengeong, memberi makan anak-anaknya di pojok warung soto Bu Yati.

Setelah menoleh ke sana-kemari, barulah lelaki berdasi itu melangkah pelan ke arahnya. Jantungku berdetak agak kencang, dengan kekhawatiran dan dugaan-dugaan tentang kedatangan lelaki itu. Mungkinkah itu keluarganya? Beruntung kehawatiranku sirna, setelah tahu lelaki itu menyapa dengan lembut, bibir ranumnya yang disorot bulan tak henti tersenyum. Ia berbicara begitu santun, seraya tak banyak mengubah posisi duduknya yang bersila di paving, sekitar setengah meter dari lelaki gila itu duduk. Lantas mereka bercakap.

Aku penasaran, aku mencoba mendekat. Berpura-pura menggembok gerbang sekolah.

Sepertinya mereka bercakap banyak hal, dan beberapa kali kulihat lelaki berdasi itu menyodorkan rokok, roti, dan minuman kepadanya.

Baca Juga: Tips Menulis Cerpen dari Mas Ken Hanggara, Catatan Kelas Cerpen

“Saya ingin Mas bisa menyebut angka apa saja yang akan keluar minggu ini. Saya suka berjudi, Mas.” Ucapan lelaki berdasi kepada orang gila itu seolah diterbangkan oleh angin dan tertangkap oleh indra dengarku.

Ada-ada saja. Ternyata apa yang aku dengar dari obrolan bapak-bapak di RT ini tentang kecanduan judi, tak hanya isapan jempol belaka. Bahkan orang waras pun bertanya angka pada orang gila. Aku hanya bisa tersenyum, menarik kedua sudut bibirku hingga nyaris mencapai tulang pipi, akan apa yang barusan aku dengar.

Lelaki gila itu tak merespons, meski dari kejauhan lelaki berdasi itu menangis sambil memeluk betisnya. Ia terus membujuk agar membantunya menyebut nomor. Lelaki gila itu lebih banyak diam meniru bulan, hingga lelaki berdasi itu pulang dengan kecewa, setelah menendang keras sebuah botol bekas. Ia adalah satu di antara sekian banyak orang waras yang belakangan aku tahu justru meminta saran atau nasihat kepada lelaki gila itu.

Aku heran, kenapa di saat zaman semakin maju dan sebagian besar orang memuja rasionalitas justru masih banyak yang memimpikan nasihat dari dunia sunyi yang jauh dari jangkauan akal sehat. Mungkinkah mereka menyebut lelaki di pojok sekolah itu gila dan menganggap diri mereka waras, tapi percaya kepada kata-kata lelaki gila, meminta pendapat dan doa kepada nya? Aku jadi berkesimpulan bahwa kegilaan masa kini hanya disekat oleh tampilan fisik, sementara inti jiwa setiap orang hampir semuanya pernah gila. Ah, ngawur aku.

Bulan mematung di balik rimbun daun mangga madu.

Jumat sehat, sabtu hijau. Dan lelaki gila itu tak tampak lagi. Belakangan aku tahu di jaman orde baru, ia adalah aktivis kampus. Bahkan titelnya dokterandus. Desas desus di RT sini, ia sengaja dibuat gila. Banyak hal yang ia tahu tentang persengkongkolan persengkongkolan pejabat-pejabat yang sering mengajaknya pergi. Dan suara seriosa yang acapkali tedengar tiap pagi itu, kini tak ada lagi. Orang gila depan sekolah tak telihat lagi. Mungkin pergi, mungkin diciduk polisi, atau tergeletak tak sadarkan diri kemudian mati, aku tak mengerti.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel